Duka di Ufuk Senja


Duka di Ufuk Senja

 

Terkenang pada masa lampau

Hidup yang tampak galau

Yang sempat layu

Dosa insan yang bau

Kau didera tuk menghalau

Palang hina tempatmu…

 

Arek-arek itu mengelilingi-Nya

Menuntun berdandankan kebejatan

Kelaliman mengitarinya dengan mesra

Saat dunia ingin menangis peluh

Teriring kembang flamboyan pun gugur

Derai mata yang tak malu datang

Menatap tubuh rapuh dibalut selempengan kotoran

Melepuh di sekujur tubuh

Terpampang kisah penuh pilu

Tragis memang…

Melalang duka kian kuat

Pun mulut tak berhenti berucap

Salibkan Dia… Salibkan Dia!!

Mengantar amukan dunia yang penuh makian

 

Kerikil tajam menjadi saksi tanya

Cadas pun ikut bergeming

Tak perlu hidup yang baik

Raja siang tak lagi kuat bersinar

Ingin menyembah-Nya pula

Dihadapan singgasana duka

 

Golgota…

Ronamu berbekas merah kemilauan

Bercampur dengan debu mengepul

Meletup meracik nada emosi

Berbekas pada tapak-tapak bengis

Melantunkan pada puncak nyanyian dosa

Memeluk tubuh bersimbah darah mendidih

Mengelas niat yang tak luntur

Yang menjerit atas kelaliman penguasa

Tertetak pada bulu paku yang enggan bercerita

 

Bilur pun mulai merengek

Menuntut perak itu

Naif tirai kepalsuan yang terbuka…

Serak suara menggoda tawa..

Membingkis cemoohan..

Terpekur dalam ketakberdayaan

 

Saat awan kumulus mengawal pergi

Lolongan bertaubat benci pun bersahut-sahut

Saat raga lemah tak kuat melawan

Saat perih mulai menangis

Dengan hati tersayat teriris

Pada jiwa yang berlagak sadis

Bermuka iblis…

Riuh pun tak mau menepi

Pada tempat yang sepi

Muslihat datang menanti

Untuk sebuah kematian suri

Meski sang waktu tak mau berhenti

Yang terurai pada bayang semu..

 

Bergurau pada cinta lama yang pernah pudar

Bertahan dalam kubangan olokan

Dijarah oleh maut

Terekam jejak pahit yang tak mau hilang

Basi menghimpit bumi

Menelanjang rupa-Mu

Melucuti cinta-Mu

Didekap perak berumur muda

Bukan sekedar mengemis cinta

Bukan menggenggam mawar pada seutas harapan

Yang enggan bertanya ..

Cinta yang bersemi, bermekaran

Menetas kesejukan berirama kasih

Mengisi kekeringan dengan air suka

Mengalun syahdu…

Tuk tebus  yang tak tahu diri…

Cinta tak seperti embun yang melekat pada dinding jendela

Yang menguap terkena bias mentari

Palang hina tertancap sudah

Menjulang nyata atas bukit kala

Memberi aura simfoni pada pelupuk senja

Seraya merekah pada Kuasa-Nya…

Terbingkai dalam memori CINTA

Camkanlah…Ingatlah…Tentang AKU!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s